Hermeneutika Hasan Hanafi dan Relevansinya Terhadap Indonesia

Dimuat di Jurnal al-Aqidah, Vol. 6, Edisi 2, Desember 2014, Jurusan Aqidah dan Filsafat, Fakultas Ushuluddin, IAIN Imam Bonjol Abstract: Qur’anic studies of Hasan Hanafi is the third of his triad-massive-project. As a devotee of subjectivis hermeneutics, he comes from the reality into the text. Hasan Hanafi insists that interpreter has to own political commitment before re-interpreting Qur’anic text. He applies liberation hermeneutics as of … Lanjutkan membaca Hermeneutika Hasan Hanafi dan Relevansinya Terhadap Indonesia

Diferensiasi Wahyu, Alquran, dan Mushaf Utsmani

Judul Buku     : (1) Menggugat Otentisitas Wahyu Tuhan, dan (2) Arah Baru Studi Ulum al-Qur’an Penulis             : Dr. Aksin Wijaya, SH., M.Ag Penerbit           : (1) Yogyakarta: Safiria Insania Press ; (2) Yogyakarta: Pustaka Pelajar Cetakan          : (1) Cetakan I, 2004; (2) Cetakan 1, 2009 Pembaca akan terkaget-kaget membaca judul yang pertama, terutama yang memiliki sensifitas tinggi terhadap keagungan dan kesucian Alquran. Dengan tegas otentisitas wahyu … Lanjutkan membaca Diferensiasi Wahyu, Alquran, dan Mushaf Utsmani

Islam Sahabat Perempuan

Banyak feminis yang mengidentifikasi agama, terutama Islam, sebagai salah satu penghambat berkembanganya pemahaman yang egaliter secara gender. Lebih jauh, mereka berpandangan bahwa agama justru melanggengkan perlakuan tidak adil terhadap perempuan. Isu-isu seperti poligami, hak waris, kepemimpinan perempuan, thalak, dan sebagainya menjadi sorotan. Tuduhan kaum feminis ini sepertinya mendapatkan justifikasi dari umat Islam sendiri. Mayoritas menganggap perempuan ya seperti itu adanya dan ditemukan justifikasinya dari teks suci agama.

Benarkah Islam diskriminatif? Benarkah Islam tidak egaliter secara gender? Jawabannya tentu saja ‘sangat’ tidak. Jika dipahami secara lebih mendalam dan menyeluruh, akan ditemukan bahwa Islam adalah penyelamat perempuan. Perempuan harus berbangga dengan adanya Islam, dan perempuan harus bisa menganggap Islam sebagai sahabat yang telah setia memperjuangkannya. Bagaimana Islam menyelamatkan perempuan? Lanjutkan membaca “Islam Sahabat Perempuan”

Tradisi Membaca Alquran di Bulan Ramadhan

Pendahuluan

Pertemuan antara Alquran dengan masyarakat yang telah mempunyai kebudayaannya sendiri menimbulkan fenomena baru. Hal ini tak lepas dari resepsi masyarakat terhadap Alquran itu sendiri. Alquran sebagai wujud kalam Allah terkadang diartikan sebagai sebuah teks yang mempunyai faedah tersendiri dalam keadaan tertentu. Sehingga, terlihat Alquran disikapi secara simbolik sebagai suatu bacaan yang mempunyai kandungan khusus ketika dibaca pada momen-momen khusus pula. Disisi lain, terdapat pula masyarakat yang memahami Alquran sebagai suatu kitab suci yang memiliki pahala besar jika dibaca dan diamalkan.

Alquran yang diturunkan pada bulan Ramadhan membuat posisi bulan benuh berkah ini menjadi berbeda dengan bulan-bulan lainnya. Ramadhan terlihat memiliki kecenderungan khusus dalam setiap kegiatan masyarakat. Hal-hal yang sering disematkan kepada Ramadhan telah menjadikan masyarakat memiliki resepsi keberagamaan yang berbeda dari bulan-bulan lainnya. Akan terlihat ciri khas tersendiri dalam tubuh masyarakat selama menjalankan tradisi keberagamaan pada bulan ini.

Lanjutkan membaca “Tradisi Membaca Alquran di Bulan Ramadhan”

Kesetaraan Gender Perspektif Al-Qur’an

A. Pendahuluan

Gender merupakan perbincangan yang kian hangat untuk dibicarakan. Bukan hanya karena kontradiksi yang terdapat pada respon masyarakat mengenai kedudukan perempuan, tetapi juga—terlepas apakah ia kontradiktif atau tidak—karena aktivitas sebagian perempuan yang semakin meningkat dan mendapatkan tempat di wilayah publik. Kontradiksi yang dimaksud berkaitan dengan persepsi masyarakat apakah kondisi historis perempuan sekarang ini sudah cukup sebagai refleksi dari pesan normatif Islam atau tidak. Sebagian berpendapat bahwa posisi dan hubungan kaum perempuan dan laki-laki saat ini sudah sesuai dengan cita-cita Islam, sehingga tidak perlu dipertanyakan dan dipermasalahkan lagi. Sebagian lainnya merasakan adanya titik-titik diskriminatif dalam posisi dan hubungan perempuan dengan laki-laki. Artinya, posisi ini belum mencerminkan ajaran Islam yang memperkenalkan keadilan dan egalitarianisme antara status laki-laki dan perempuan. Menurut mereka, mestilah ada suatu inisiatif untuk mengkajinya dengan orientasi memutuskan jalan ketidakadilan yang telah berjalan lama untuk selanjutnya diganti dengan suatu sistem yang adil.[1] Lanjutkan membaca “Kesetaraan Gender Perspektif Al-Qur’an”

Evolusi Sunnah dan Implikasinya terhadap Teori Penulisan Hadis

Dunia kontemporer telah melahirkan sederet nama pemikir-pemikir dalam diskursus Islamic Studies yang meliputi berbagai bidang, termasuk Hadis. Dalam bidang ini, nama-nama seperti Yusuf Qaradhawi, Mushtafa Azami, Muhammad al-Ghazali, Rasyid Ridha, Ahmad Amin, Musthafa al-Siba’i dan sebagainya bermunculan. Pada saat yang sama, tidak sedikit non-muslim yang tertarik dan bahkan melakukan penelitian serius mengenai hadis. Sebutlah nama-nama Ignaz Goldziher, Sprenger, Montgomery Watt, Jospeh Schacht, Harald Motzki, Margoliouth, Lammens, dan sebagainya.[1] Untuk kalangan sarjana Muslim, sebagiannya menelorkan karya yang berupa respon bagi kajian-kajian orientalis tersebut, baik yang bernada setuju maupun membantah.

Lanjutkan membaca “Evolusi Sunnah dan Implikasinya terhadap Teori Penulisan Hadis”