Alfa, Rambut, dan Siswa Bengal

Juga dimuat di mediasantri dan kompasiana Kembali ke beberapa tahun yang lalu, saya teringat dengan sebuah pelatihan bagi guru-guru madrasah. Hal ini mengikuti kebijakan madrasah tempat saya dulu belajar dan ketika itu mengajar, Madrasah Sumatera Thawalib Parabek, untuk mengadopsi Multiple Intelligence System (MIS) dalam kegiatan belajar-mengajar. Metode ini mengingkari status quo yang hanya menilai dan menghargai sisi kognitif dari peserta ajar. Dengan kata lain, sejauh ini sekolah-sekolah cenderung hanya menghargai siswa paling … Lanjutkan membaca Alfa, Rambut, dan Siswa Bengal

Fenomena Guru Berlapis

Ada satu hal menarik yang mungkin familiar terjadi di lingkungan pesantren. Saya ingin menyebutnya dengan fenomena Guru Berlapis. Ini tentang rentetan hubungan guru dan murid dari generasi ke generasi. Bukan, ini bukan seperti silsilah keluarga atau jalur isnad dalam periwayatan hadis. Fenomena guru berlapis ini pastinya juga terjadi dalam isnad hadis. Dari situlah kemungkinan terjadi hadis Mursal. Ah, sudahlah. Kita tidak akan membicarakan mustalah hadis … Lanjutkan membaca Fenomena Guru Berlapis

Selamat Jalan, Nyiak…

“Baa nyo, lah sudah duo?” “Alah, Nyiak.” “Alhamdulillah. Lai ka manambah katigo?” “Insyaallah, Nyiak. Minta doanyo, Nyiak” Tak disangka, ternyata itu dialog terakhirku dengan Beliau. Beberapa hari setelah lebaran Idul Fitri tahun ini. Ketika itu, sepulangnya menghadiri pernikahan salah seorang teman, saya dan beberapa orang teman menyempatkan diri menemui Beliau. Kembali menggenggam dan mencium tangannya. Inyiak Khatib Muzakkir. Begitulah ia dipanggil. Ah, sebenarnya sudah begitu … Lanjutkan membaca Selamat Jalan, Nyiak…

Bacaan Wajib Calon Khadim li al-Ummah

UN sudah dekat untuk santri tingkat akhir, begitu juga dengan KU untuk santri kelas lima. Khidmatul Ummah (KU) memang suatu tradisi dan program yang terus diagendakan oleh Ponpes Sumatera Thawalib Parabek.Waktu itu, kalau tidak salah program ini dirintis pada angkatannya bg Zaki Munawwar, tahun 2004. Semenjak itu agenda ini bertahan terus setiap tahunnya. Selain ngurangin jatah libur santri kelas V (kasiaan,, hehe) , agenda ini … Lanjutkan membaca Bacaan Wajib Calon Khadim li al-Ummah

HISTORICAL RECORD FOR MADRASAH SUMATERA THAWALIB PARABEK: A historically-forgotten legendary pesantren

A historically-forgotten legendary pesantren We acknowledge that we intentionally chose the phrase for the headline of this article on some reasons. Firstly, the history of Madrasah Sumatera Thawalib Parabek (MST Parabek) receives less-attention from the writers particularly from the insiders, and therefore, secondly, many people by no intention misunderstand about this pesantren, which is located in Regency of Agam, West Sumatera. On some occasions, we … Lanjutkan membaca HISTORICAL RECORD FOR MADRASAH SUMATERA THAWALIB PARABEK: A historically-forgotten legendary pesantren

Yang Tak Pandang Bulu

Terbit di Majalah SANTRI volume 1/November 2009

Ada sebuah streotype yang berkembang di masyarakat mengenai keberadaan santri. Streotype tersebut sedikit banyaknya telah menyudutkan santri di satu sisi dan pesantren di sisi lain. Ada yang beranggapan, santri tidak siap kerja, ilmu yang mereka dapatkan di pesantren tidak akan membawa mereka kepada kesuksesan. Atau dalam pandangan lain, buat apa menyekolahkan anak ke pesantren, mau jadi apa dia setelah dewasa? Jadi penceramah? Bagaimana dia bisa menghidupi keluarganya? Atau dalam tataran praksis, pesantren dijadikan ‘ban serap terakhir.’ Ketika seorang anak tidak lulus tes penerimaan siswa baru di beberapa sekolah yang ditargetkan, akhirnya dengan ‘terpaksa’ ia disekolahkan di pesantren. Pada dasarnya, semua streotype tersebut meragukan kualitas seorang santri, apakah mereka bisa menjalani kehidupannya di zaman modern yang penuh teknologi ini jika ia hanya belajar alif-ba-ta saja? Akankah mereka menjadi orang sukses kelak? Lanjutkan membaca “Yang Tak Pandang Bulu”

Madrasah Sumatera Thawalib Parabek

Majalah Sarung edisi 1/Januari 2011

Satu abad yang lalu, tahun 1910, Syaikh Ibrahim Musa mendirikan sebuah majelis halaqah ilmiyyah di sebuah desa yang bernama Parabek. Masyarakat sekitar mengenal beliau dengan panggilan Inyiak Ibrahim, Inyiak Parabek, atau Inyiak Syiah. Sekarang, satu abad setelah dirintisnya halaqah tersebut, tampaklah sebuah Madrasah yang berdiri megah yang bernama Madrasah Sumatera Thawalib Parabek. Dalam umur yang seratus tahun, figur Inyiak Parabek masih terasa segar di benak beberapa murid beliau yang masih hidup, dan sering diceritakan kepada santri-santri Madrasah Sumatera Thawalib itu sendiri. Antusias dan penghargaan setiap santri terhadap figur Inyiak Parabek ini secara perlahan menjadikan beliau identik dengan Madrasah Sumatera Thawalib. Berbicara mengenai MST, tidak bisa terlepas dari Syaikh Ibrahim Musa, dan sebaliknya berbicara mengenai Syaikh Ibrahim Musa tidak bisa lepas dari tema MST. Makam beliau yang bertempat di halaman mesjid tempat semua santri melakukan aktifitasnya tampaknya semakin menambah kesan ini.

Dalam seratus tahun yang berlalu, tentu saja Madrasah Sumatera Thawalib (MST) Parabek mengalami dinamikanya tersendiri. Catatan sejarah senantiasa mengiringi hari demi hari berkembangnya madrasah ini. Jika ditelusuri secara sederhana, semua berawal dari majlis ilmu antara figur Inyiak Syiah dengan beberapa murid beliau selepas kepulangan beliau dari Makkah. Menonjolnya kepribadian, ilmu, dan kelembutan beliau mengundang banyak murid-murid berdatangan dari berbagai wilayah. Kemudian majelis tersebut dinamai dengan muzakarat al-ikhwan. Empat tahun berlalu, Inyiak Syiah berangkat untuk kedua kalinya ke tanah suci Makkah untuk memperdalam ilmu beliau. Satu pesan dari beliau kepada murid-murid supaya halaqah tersebut terus dijalani, jangan sampai berhenti. Pesan beliau ini dijalani dengan baik oleh murid beliau hingga beliau pulang. Konsistensi ini juga terus bertahan bahkan pada masa-masa sulit seperti pada masa penjajahan Jepang, agresi militer Belanda, bahkan hingga saat ini.

Lanjutkan membaca “Madrasah Sumatera Thawalib Parabek”

Pesantren Sebagai Kekuatan Ekonomi Syariah Bangsa

Terbit di Majalah Sarung edisi 1/Januari 2011

Pesantren dapat menjadi kekuatan ekonomi bangsa ketika ia berhasil menjadi miniatur kehidupan berekonomi yang nyata. Di sana ada produsen yang mampu meningkatkan daya jual sebuah komoditi, ada distributor, dan tentu saja produsen. Hubungan eksternal pesantren dengan masyarakat sekitar mampu menumbuhkembangkan perekonomian masyarakat sekitar. Akhirnya, jika banyak pesantren yang mampu melakukannya, secara otomatis akan memperkuat tatanan ekonomi bangsa

Lanjutkan membaca “Pesantren Sebagai Kekuatan Ekonomi Syariah Bangsa”

Pesantren dan Masa Depan Pendidikan Indonesia

Terbit di Majalah Sarung edisi 1/Januari 2011, disarikan dari wawancara bersama Dr. Phill. Sahiron Syamsuddin, M.A  [Direktur Pusat Studi dan Pengembangan Pesantren (PSPP) dan Dosen UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, CRCS-ICRS UGM, UNSIQ Wonosobodan ISIF Cirebon

Pesantren dulu, sekarang, dan Mendatang

Pesantren merupakan tempat yang sangat ideal untuk pendidikan anak-anak Indonesia. Ia memiliki tradisi-tradisi baik, yang mendukung proses pembentukan jiwa ilmiyyah sekaligus amaliyyah seorang pelajar (baca: santri). Pesantren mengajarkan ilmu-ilmu praktis Islam, yang lebih bersifat amaliyyah seperti shalat, puasa, baca Alquran, dan sebagainya. Lebih jauh, pesantren juga mengajarkan pendalaman keilmuan keislaman dengan modal bahasa Arab dan pembacaan kitab-kitab turats yang banyak dikenal dengan kitab kuning. Lanjutkan membaca “Pesantren dan Masa Depan Pendidikan Indonesia”