Re-Orientasi Metodologi Penelitian Al-Quran: Belajar dari Pengalaman Studi Indonesia-Jerman

disampaikan dalam Diskusi Dosen Fakultas Ushuluddin UIN Imam Bonjol Padang, 20 Maret 2017 Sekilas tentang Studi Qur`an di Barat Ada banyak tulisan yang menjabarkan pengantar terhadap studi Qur’an oleh sarjana Barat seperti Abdullah Saeed dalam The Qur’an: Introduction (Saeed, 2008), Harmut Bobzin dalam Encyclopaedia of The Qur’an (Bobzin, 2002), Fazlurrahman dalam pendahuluan Major Themes (Rahman, 1996), Whitney Bodman (Bodman, 2009), dan sebagainya. Terminologi Western Scholarship … Lanjutkan membaca Re-Orientasi Metodologi Penelitian Al-Quran: Belajar dari Pengalaman Studi Indonesia-Jerman

Kristen Menurut Alquran Dalam Pendekatan Reader-Response Jane Dammen Mcauliffe

Dipresentasikan pada International Seminar Living Phenomena of Arabic Language ang the Qur’an Fakultas Agama Islam Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta dan University of Malaya 7 Mei 2014
Abstract:

Many Qur’anic a>ya>t both challenge and praise Christians and Bible which then determine the way of Muslim to behave before the Christians. McAuliffe divides the Qur’anic presentation to the Bible into two sections: Qur’anic self-referentiality and Quranic Inter-religious view. In a reader-response approach, after analysing ten commentary-books on seven Qur’anic verses, she concludes that since the exegesis controls the Qur’an, Qur’anic Christians refer to neither historical Christians nor the living community call themselves as Christians. Applying descriptive-analitical method, the research found that there are some methodological problem within his logical sequence: her argument are circular in one hand and she falls in improper generalization since she constructs her Qur’anic Christians theory only on verses which praise Christians.

Lanjutkan membaca “Kristen Menurut Alquran Dalam Pendekatan Reader-Response Jane Dammen Mcauliffe”

Kesetaraan Gender Perspektif Al-Qur’an

A. Pendahuluan

Gender merupakan perbincangan yang kian hangat untuk dibicarakan. Bukan hanya karena kontradiksi yang terdapat pada respon masyarakat mengenai kedudukan perempuan, tetapi juga—terlepas apakah ia kontradiktif atau tidak—karena aktivitas sebagian perempuan yang semakin meningkat dan mendapatkan tempat di wilayah publik. Kontradiksi yang dimaksud berkaitan dengan persepsi masyarakat apakah kondisi historis perempuan sekarang ini sudah cukup sebagai refleksi dari pesan normatif Islam atau tidak. Sebagian berpendapat bahwa posisi dan hubungan kaum perempuan dan laki-laki saat ini sudah sesuai dengan cita-cita Islam, sehingga tidak perlu dipertanyakan dan dipermasalahkan lagi. Sebagian lainnya merasakan adanya titik-titik diskriminatif dalam posisi dan hubungan perempuan dengan laki-laki. Artinya, posisi ini belum mencerminkan ajaran Islam yang memperkenalkan keadilan dan egalitarianisme antara status laki-laki dan perempuan. Menurut mereka, mestilah ada suatu inisiatif untuk mengkajinya dengan orientasi memutuskan jalan ketidakadilan yang telah berjalan lama untuk selanjutnya diganti dengan suatu sistem yang adil.[1] Lanjutkan membaca “Kesetaraan Gender Perspektif Al-Qur’an”